Categories
Agraria

Manajemen Tambak, Kunci Sukses Budidaya Si Bongkok

Wayan Agus Edhy dari PT Hero Mul ti Sentosa, penyedia sarana tam bak, mengatakan, keberhasil an budidaya udang dipengaruhi banyak faktor. “Mulai dari pemilihan lokasi yang cocok untuk pertambakan, dukungan finansial, sumber daya manusia (SDM), dan ma najemen,” ujarnya pada seminar nasional “Budidaya Udang Berkelanjutan: Pros pek dan Tantangannya” yang digelar Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Korda Lampung di Bandarlampung beberapa waktu lalu.

Yang paling utama, lanjutnya, adalah SDM. SDM yang terlibat dalam budidaya udang harus dibekali pengetahuan akuakultur dan manajemen sehingga mudah me mahami proses bisnis akuakultur. Proses bisnis akuakultur ini dimulai dari persiapan tambak, penebaran benur, manajemen kualitas air, manajemen pakan, manajemen kesehatan udang, dan panen.

Persiapan hingga Panen

Agus menjelaskan, pada tahap persiapan tambak pembudidaya harus melakukan pemeriksaan konstruksi tambak, pem bersihan dasar tambak dan instalasi, perlengkapan tambak, pengeringan dasar tambak, pemberian kapur, pengisian dan sterilisasi air, serta penumbuhan plankton. Pada tahap penebaran benur, sebelum ditebar, benur harus diperiksa kualitasnya, baru ditebar dengan kepadatan yang dise suaikan daya dukung kolam dan sarana budidaya. Selanjutnya pada tahap pembe saran udang, aktivitas pengelolaan yang menjadi pekerjaan utama meliputi ma najemen air, pakan, sampling, dasar tam bak, dan penyakit.

“Jika pada tahapan mengelola pembesaran terjadi mismanagement, yang muncul adalah infeksi yang berujung penyakit dan kegagalan budidaya,” tutur Agus. Karena itu pengelolaan yang baik harus dimulai dari sumber air budidaya dan perlakuan terhadap air sebe lum digunakan, persiapan lahan yang sesuai dengan jenis dan konstruksi tambak, serta cara pe numbuhan plankton.

Selanjutnya diikuti manajemen pakan, penggunaan probiotik atau kultur bakteri, dan manajemen bahan organik dasar tambak. Sementara pada tahap panen, yang menjadi perhatian ada lah pengangkutan udang ke cold storage agar kualitasnya tetap terjamin sampai di tujuan.

Manajemen Air

Sumber air budidaya, ulas praktisi akuakultur itu, umumnya berasal dari air laut, air laut campur air tawar, atau isi awal air laut lalu ditambah air bor dan air tawar. Di sini pembicara menggarisbawahi, air su mur bor atau air tawar merupakan sumber air yang miskin mineral, tetapi dari segi bio sekuriti lebih aman daripada air laut murni.

Guna mencukupi kebutuhan mineralnya, bisa ditambahkan dari luar. Mineral dalam bentuk garam lebih baik karena lebih mudah larut di air. Mineral berperan menjaga tekanan osmosis yang mengatur pertukaran cairan dalam tubuh udang, sebagai komponen struktural dari jaringan lunak, serta sangat penting dalam transmisi impuls saraf dan kontraksi otot. “Mineral juga berperan mengatur keseimbangan asam-basa tubuh udang, meng atur pH darah dan cairan tubuh lainnya.

Lalu mineral merupakan komponen penting dalam beberapa enzim, vitamin, hormon dan pigmen, sebagai co-factor dalam metabolisme, sebagai katalisator dan aktivator enzim,” urai Agus. Dari manapun sumber airnya harus diste rilisasi dulu sebelum digunakan. Tujuannya membunuh inang, bakteri patogen dan virus dalam air, terutama sekali pada tahap persiapan.

Persiapan Berbeda-beda

Pada setiap jenis tambak, persiapannya berbeda-beda. Misalnya, tambak yang dilapis plastik HDPE waktu pengeringannya lebih singkat dan tidak perlu pengapuran dasar tambak. Baik tambak dinding plastik HDPE atau tambak semen dengan dasar tanah, biose kuritinya cukup baik. Namun, persiapan lahan lebih lama sehingga jumlah siklus budidaya per tahun lebih sedikit.

Di tambak jenis ini pula umumnya warna udang lebih pucat. Bila terdapat infeksi penyakit, perlu persiapan yang lebih ketat dengan perendaman menggunakan kaporit 30 ppm. Sementara pada tambak semen yang diplester, dari sisi biosekuriti lebih baik. Persiapan lahan juga lebih cepat sehingga jumlah siklus budidaya per tahun lebih banyak. Udang yang dibesarkan di tambak ini berwarna lebih gelap. “Hanya kelemahannya, lebih sulit menumbuhkan plankton dan parameter airnya lebih labil,” ia mengingatkan. Jenis konstruksi tambak yang paling sederhana adalah tambak tanah atau dasar dan dinding masih tanah.

Dari sisi biosekuriti, risikonya lebih tinggi karena ada kemungkinan air merembes dari satu tambak ke tambak lainnya. Masa persiapan lebih lama sehingga jumlah siklus per tahun lebih sedikit. Pada setiap jenis tambak, Agus menekan kan, pembudidaya harus memasang pagar plastik di sekeliling tambak dan kawat sinar di bagian atasnya. “Ini perlu untuk menghindari masuknya rajungan dan kerang-kerangan serta burung yang dikhawatirkan menjadi inang penyakit,” jelasnya.

Dalam tahap persiapan, pembudidaya juga perlu menumbuh kan plankton. Untuk itu, dibutuhkan sumber nitrogen seperti amonium (NH4+), nitrat (NO3- ), sumber fosfat: orthofosfat (HPO4=), sumber karbon: karbon dioksida (CO2), bikarbonat (HCO3- ), sinar matahari : 2500 – 5000 Lux, dan air. Terakhir, trace element berupa K, Mg, Ca, S, Fe, Cu, Mn, Zn, Mo, Na, Co, dan V. Sumber CO2 berasal dari dekomposisi bahan organik yang mengandung karbohidrat, lemak, dan protein.

Dalam proses ini penting dilakukan pemantauan TAN (Total Amonia Nitrogen) dan orthofosfat untuk menjaga N/P rasio 15 – 20 supaya green algae yang dominan dan stabil. Jika pertumbuhan plankton tidak terkendali, akan muncul klekap dan lumut di dasar tambak atau blue gree algae yang dominan.

“Tujuan dari manajemen tambak adalah menciptakan kondisi ekosistem yang seimbang antara heterotrof dan autotrof agar tercipta kondisi tambak yang lebih stabil,” Agus mengakhiri pemaparan.

Categories
Agraria

Mau Tahu Benih Jagung Toleran Bulai?

Dari 11 spesies cendawan penyebab penyakit bulai di seluruh du nia, ungkap Amran Muis, ada spesies yang menginfeksi di Indonesia, yaitu Peronosclerospora maydis, P. shorgi, dan P. philippinensis. “Dan hanya satu jenis yang ditemukan di Pulau Sula wesi, tidak ditemukan di tempat lain.

Dua lainnya tersebar di seluruh Indo nesia, mulai dari Pulau Su matera sampai sampai NTB,” lanjut Ahli Peneliti Utama bidang Penyakit Tanaman Balai Penelitian Tanaman Serealia, Badan Litbang Pertanian itu kepada AGRINA.

Perkembangan Bulai

Khusus Sulawesi, Doktor bidang Patologi Tanaman dari UPBL, Filipina itu me nyatakan, bulai menyebar di Sulut, Gorontalo, dan Sulsel. Penyebab serang an nya ialah cendawan Pe ro nosclerospora philip pinensis yang diduga ber asal dari Filipina. Di Jawa Timur ditemukan spesies P. maydis. Sedangkan, P. shorgi ada di Gunungkidul-DIY, Jabar, Sumut, NAD, dan Sultra.

“NTT belum ada. Dari data kami, Indonesia bagian timur belum ada tetapi dari karantina sudah ada,” papar Amran. Penyebaran penyakit bulai umumnya melalui angin (air-born disease) karena sporanya terbawa udara. Sedikit sekali lewat biji. Menurut Amran, perkem bang an penyakit yang juga disebut downy mildew itu tergantung pada lokasi dan iklim di daerah.

Semakin lembap iklim, semakin bagus cendawan Peronoscle ros pora tumbuh. “Outbreak (wabah) downy mildew itu terjadi ketika ada hujan di pagi hari, siangnya terik, ‘kan lembap, virulen itu sporanya. Tapi, harus ada inokulum du lu dari sebelumnya,” kata Ibnu Amin Rid wan, SEA Licensing TD Lead Monsanto Indonesia. Pada kesempatan lain, Yuana Leksana me nyatakan, bulai termasuk organisme pengganggu tumbuhan (OPT) utama pa da jagung.

Product Manager Seeds, DowDupont Indonesia ini mengonfirmasi, tahun lalu gangguan bulai bersifat spo radis dan tidak mewabah. “Selalu terjadi pada setiap pergantian musim, dari ke ma rau ke penghujan dan dari penghujan ke kemarau,” tambahnya.

Kondisi itu dibenarkan Ibnu. Namun, ia mengingatkan pembudidaya untuk tidak mengabaikan bulai karena sifatnya laten. Penyakit akan muncul ketika lingkungan nya mendukung dan varietas yang dita nam tidak toleran.

Adaptif Fungisida?

Di Pulau Jawa terutama Jatim dan Jateng, Amran menerangkan, fungisida ber bahan aktif metalaksil hampir tidak mempan lagi melawan bulai. Dia men duga terjadi resistensi metalaksil di dae rah endemik downy mildew, tetapi di wilayah lain masih efektif. Para peneliti Balit Serealia pun mencoba menaikkan dosis fungisida perlakuan be nih (seed treatment) tersebut dari anjuran.

“Selama ini dosis anjuran 2,5 g/kg benih/ ml air dinaikkan menjadi 4-5 g/kg benih/ ml air, baru bisa bagus. Kalau di Sulsel, do sis 2 g/kg benih/ml air masih cukup,” ulasnya. Pria kelahiran 10 Oktober 1958 itu men jabarkan, di Sulsel baru beberapa tempat yang endemik bulai sehingga penggu naan metalaksil masih efektif. “Selama ini metalaksil yang recommended untuk bulai.

Sekarang sudah ada beberapa jenis fungi sida yang dikembangkan perusa ha an-perusahaan pestisida,” katanya. Ia me nambahkan, hingga saat ini belum ada fungisida alami untuk bulai. Pencegahan bulai yang efektif menggu nakan varietas toleran ditambah perla kuan benih. Amran menegaskan, “Kita nggak bisa mengandalkan varietas tahan saja karena di beberapa pengalaman yang dulunya kita katakan tahan, ternyata kena juga.

”Pendekatan genetik, ungkap Ibnu, sangat efektif mencegah penyakit bulai. “Pendekatannya bisa melalui varietas, pengelolaan lingkungan, dan eradikasi penyakit. Penggunaan varietas yang tepat bisa mendukung 60% terhadap pengendalian downy mildew,” paparnya. Selain itu, Doddy Wiratmoko, Product Development Senior Manajer PT Bisi Inter national, Tbk. menambahkan, tanam se ren tak atau tanam awal, jaga kelembapan dengan drainase yang baik, penyem prot an pestisida, dan pemupukan tepat waktu berbarengan tanam benih, sangat baik mencegah kehadiran bulai.

Ia memperkirakan, penyakit ini akan tetap dominan di Jatim, Jateng, Lampung, Medan, dan Kalimantan pada 2018.

Varietas Toleran Bulai

Untuk mengembangkan varietas ja gung toleran bulai, Ibnu menerangkan, saat ini produsen benih telah melibatkan teknologi biomolekuler dengan penanda DNA (DNA marking). Monsanto sudah menggunakan teknologi penanda DNA atau disebut Quantitative Trait Locus(QTL) guna merakit benih jagung toleran bulai.

“Proses itu yang membantu Monsanto mempercepat product development. Em pat tahun terakhir produk-produk kami sangat bagus,” jelasnya dengan menun juk varietas DK 771 dan DK 959 yang toleran bulai. DK 771 khusus untuk daerah beririgasi, sedangkan DK 959 untuk daerah tadah hujan.

Balit Serealia pun tak mau kalah, juga merakit benih jagung berteknologi bio molekuler, “Ini bisa memperpendek pe ne muan varietas baru. Bisa tiga tahun kita menemukan varietas baru. Tahun ini ren cananya sudah uji lapangan,” lanjut Amran seraya mengatakan benih varietas BIMA 3, BIMA 19 URI, BIMA 20 URI, NASA 29, JH 234, dan JH 27. NASA 29 berumur panen 100 hari dengan potensi hasil 13,5 ton/ha.

Di lapang, jeda Yuana, pemerintah me la lui Ditjen Tanaman Pangan, Kemente rian Pertanian dan Tim Penilai Pelepas Va rie tas mengharuskan setiap varietas baru memiliki ketahanan genetik terhadap bu lai, minimal 70%. “Jadi setiap produk baru yang dijual sudah memiliki ketahanan ter ha dap bulai,” ucapnya seraya menye but varietas P35 keluaran DuPont yang toleran bulai.

Benih P35 juga tahan rebah dan berpotensi hasil sekitar 12,1 ton/ha. Sementara Bisi, kata Doddy, menghadirkan benih jagung BISI 226 dan BISI 228 untuk mengatasi bulai. “Tipenya sama, tongkol besar dan panjang. Cuma, ben tuk biji, karakter, dan tanamannya beda,” ulasnya. BISI 226 dapat dipanen 60 hari untuk dijadikan jagung rebus atau bakar, sedangkan BISI 228 bisa dibuat menjadi silase.