Mau Tahu Benih Jagung Toleran Bulai?

Mau Tahu Benih Jagung Toleran Bulai?

Dari 11 spesies cendawan penyebab penyakit bulai di seluruh du nia, ungkap Amran Muis, ada spesies yang menginfeksi di Indonesia, yaitu Peronosclerospora maydis, P. shorgi, dan P. philippinensis. “Dan hanya satu jenis yang ditemukan di Pulau Sula wesi, tidak ditemukan di tempat lain.

Dua lainnya tersebar di seluruh Indo nesia, mulai dari Pulau Su matera sampai sampai NTB,” lanjut Ahli Peneliti Utama bidang Penyakit Tanaman Balai Penelitian Tanaman Serealia, Badan Litbang Pertanian itu kepada AGRINA.

Perkembangan Bulai

Khusus Sulawesi, Doktor bidang Patologi Tanaman dari UPBL, Filipina itu me nyatakan, bulai menyebar di Sulut, Gorontalo, dan Sulsel. Penyebab serang an nya ialah cendawan Pe ro nosclerospora philip pinensis yang diduga ber asal dari Filipina. Di Jawa Timur ditemukan spesies P. maydis. Sedangkan, P. shorgi ada di Gunungkidul-DIY, Jabar, Sumut, NAD, dan Sultra.

“NTT belum ada. Dari data kami, Indonesia bagian timur belum ada tetapi dari karantina sudah ada,” papar Amran. Penyebaran penyakit bulai umumnya melalui angin (air-born disease) karena sporanya terbawa udara. Sedikit sekali lewat biji. Menurut Amran, perkem bang an penyakit yang juga disebut downy mildew itu tergantung pada lokasi dan iklim di daerah.

Semakin lembap iklim, semakin bagus cendawan Peronoscle ros pora tumbuh. “Outbreak (wabah) downy mildew itu terjadi ketika ada hujan di pagi hari, siangnya terik, ‘kan lembap, virulen itu sporanya. Tapi, harus ada inokulum du lu dari sebelumnya,” kata Ibnu Amin Rid wan, SEA Licensing TD Lead Monsanto Indonesia. Pada kesempatan lain, Yuana Leksana me nyatakan, bulai termasuk organisme pengganggu tumbuhan (OPT) utama pa da jagung.

Product Manager Seeds, DowDupont Indonesia ini mengonfirmasi, tahun lalu gangguan bulai bersifat spo radis dan tidak mewabah. “Selalu terjadi pada setiap pergantian musim, dari ke ma rau ke penghujan dan dari penghujan ke kemarau,” tambahnya.

Kondisi itu dibenarkan Ibnu. Namun, ia mengingatkan pembudidaya untuk tidak mengabaikan bulai karena sifatnya laten. Penyakit akan muncul ketika lingkungan nya mendukung dan varietas yang dita nam tidak toleran.

Adaptif Fungisida?

Di Pulau Jawa terutama Jatim dan Jateng, Amran menerangkan, fungisida ber bahan aktif metalaksil hampir tidak mempan lagi melawan bulai. Dia men duga terjadi resistensi metalaksil di dae rah endemik downy mildew, tetapi di wilayah lain masih efektif. Para peneliti Balit Serealia pun mencoba menaikkan dosis fungisida perlakuan be nih (seed treatment) tersebut dari anjuran.

“Selama ini dosis anjuran 2,5 g/kg benih/ ml air dinaikkan menjadi 4-5 g/kg benih/ ml air, baru bisa bagus. Kalau di Sulsel, do sis 2 g/kg benih/ml air masih cukup,” ulasnya. Pria kelahiran 10 Oktober 1958 itu men jabarkan, di Sulsel baru beberapa tempat yang endemik bulai sehingga penggu naan metalaksil masih efektif. “Selama ini metalaksil yang recommended untuk bulai.

Sekarang sudah ada beberapa jenis fungi sida yang dikembangkan perusa ha an-perusahaan pestisida,” katanya. Ia me nambahkan, hingga saat ini belum ada fungisida alami untuk bulai. Pencegahan bulai yang efektif menggu nakan varietas toleran ditambah perla kuan benih. Amran menegaskan, “Kita nggak bisa mengandalkan varietas tahan saja karena di beberapa pengalaman yang dulunya kita katakan tahan, ternyata kena juga.

”Pendekatan genetik, ungkap Ibnu, sangat efektif mencegah penyakit bulai. “Pendekatannya bisa melalui varietas, pengelolaan lingkungan, dan eradikasi penyakit. Penggunaan varietas yang tepat bisa mendukung 60% terhadap pengendalian downy mildew,” paparnya. Selain itu, Doddy Wiratmoko, Product Development Senior Manajer PT Bisi Inter national, Tbk. menambahkan, tanam se ren tak atau tanam awal, jaga kelembapan dengan drainase yang baik, penyem prot an pestisida, dan pemupukan tepat waktu berbarengan tanam benih, sangat baik mencegah kehadiran bulai.

Ia memperkirakan, penyakit ini akan tetap dominan di Jatim, Jateng, Lampung, Medan, dan Kalimantan pada 2018.

Varietas Toleran Bulai

Untuk mengembangkan varietas ja gung toleran bulai, Ibnu menerangkan, saat ini produsen benih telah melibatkan teknologi biomolekuler dengan penanda DNA (DNA marking). Monsanto sudah menggunakan teknologi penanda DNA atau disebut Quantitative Trait Locus(QTL) guna merakit benih jagung toleran bulai.

“Proses itu yang membantu Monsanto mempercepat product development. Em pat tahun terakhir produk-produk kami sangat bagus,” jelasnya dengan menun juk varietas DK 771 dan DK 959 yang toleran bulai. DK 771 khusus untuk daerah beririgasi, sedangkan DK 959 untuk daerah tadah hujan.

Balit Serealia pun tak mau kalah, juga merakit benih jagung berteknologi bio molekuler, “Ini bisa memperpendek pe ne muan varietas baru. Bisa tiga tahun kita menemukan varietas baru. Tahun ini ren cananya sudah uji lapangan,” lanjut Amran seraya mengatakan benih varietas BIMA 3, BIMA 19 URI, BIMA 20 URI, NASA 29, JH 234, dan JH 27. NASA 29 berumur panen 100 hari dengan potensi hasil 13,5 ton/ha.

Di lapang, jeda Yuana, pemerintah me la lui Ditjen Tanaman Pangan, Kemente rian Pertanian dan Tim Penilai Pelepas Va rie tas mengharuskan setiap varietas baru memiliki ketahanan genetik terhadap bu lai, minimal 70%. “Jadi setiap produk baru yang dijual sudah memiliki ketahanan ter ha dap bulai,” ucapnya seraya menye but varietas P35 keluaran DuPont yang toleran bulai.

Benih P35 juga tahan rebah dan berpotensi hasil sekitar 12,1 ton/ha. Sementara Bisi, kata Doddy, menghadirkan benih jagung BISI 226 dan BISI 228 untuk mengatasi bulai. “Tipenya sama, tongkol besar dan panjang. Cuma, ben tuk biji, karakter, dan tanamannya beda,” ulasnya. BISI 226 dapat dipanen 60 hari untuk dijadikan jagung rebus atau bakar, sedangkan BISI 228 bisa dibuat menjadi silase.