Stop Ancaman terhadap Perunggasan!

Kemelut industri unggas di Tanah Air be – lum ada tanda-tanda berhenti. Dari sisi bisnis, para pelaku usaha tengah ber – hadapan dengan isu oversuplai yang memicu harga jual di bawah patokan pemerintah. Sementara dari sisi teknis, penurunan produksi melanda unggas yang tengah bertelur, baik itu ayam petelur maupun ayam bibit (breeder). Satu lagi terkait urusan teknis adalah seretnya pasokan jagung yang mengakibatkan terkatrolnya harga pakan unggas.

Hal lainnya terkini adalah kekalahan Indonesia dalam berperkara di forum organisasi perdagangan dunia (WTO) melawan Brasil. Ini berarti peluang produk Brasil masuk pasar kita lebih besar. Itu semua butuh solusi yang menyeluruh dan me – nguntungkan semua pihak.

Penurunan Produksi

Di kalangan peternakan ayam petelur (layer) merebak kasus penurunan produksi telur yang cukup drastis. Selain penyebab penyakit sudah biasa seperti Infectious Bronchitis (IB) dan Newcastle Disease (ND), penurunan tersebut disinyalir karena serangan virus flu burung dengan tingkat patogenik rendah (Low Pathogenic Avian Influenza – LPAI) bersubtipe H9N2.

Tidak seperti varian yang sudah lebih dulu ada di Indonesia dengan patogenisitasnya tinggi (HPAI), seperti H5N1, virus H9N2 tidak menyebabkan ke – matian. Robby Sutanto, peternak layer asal Solo, Ja – teng, saat dihubungi AGRINA membenarkan ter – jadinya penurunan produksi telur yang hampir me – rata di kalangan peternak wilayah Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Namun Robby mengakui, peternak tidak bisa serta merta mengklaim kasus tersebut akibat serangan virus H9N2. Karena baginya, belum ada kabar atau pernyataan resmi dari pemerintah perihal virus atau penyakit apa yang menyebabkan hal tersebut ter jadi. “Peternak tidak bisa mengatakan itu akibat H9N2 karena pemerintah belum menyatakan ada di Indonesia,” ucap peternak senior ini via telepon 10 Juli lalu.

Sementara Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatakan, Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros, Sulawesi Selatan telah melaporkan adanya temuan positif LPAI bersubtipe H9N2. “Meskipun ini LPAI, dampaknya tidak biasa untuk ekonomi. Jadi kita kaji terus,” paparnya kepada AGRINA usai acara halal bihalal Kementerian Pertanian, Senin (3/7).

Begitu pula Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Livet), NLP Indi Dharmayanti mengindikasikan adanya serangan virus H9N2 di beberapa peter nak – an ayam. Namun tidak semua penurunan produksi telur bisa digeneralisir akibat virus LPAI. Pasalnya, menurut Indi, virus Infectious Bronchitis (IB) juga masih menjadi ancaman serius terhadap reproduksi dan produksi telur.