Upaya Khusus Pemerintah Mencapai Swasembada

Upaya Khusus Pemerintah Mencapai Swasembada

Untuk membidik sasaran swasembada pangan, khususnya padi, jagung, dan kedelai (Pajale), pada 2017 pemerintah melancarkan Upaya Khusus (Upsus) Pajale. Tahun lalu bermodalkan anggaran sebesar Rp7,7 triliun, di luar subsidi pupuk, Kementerian Pertanian (Kementan) terus melaksanakan beragam strategi. Me liputi, intensifikasi berupa peningkatan produktivitas, ekstensifikasi dengan perluasan areal tanam, pengamanan produksi, dan peningkatan kualitas hasil panen serta penurunan angka kehilangan panen.

Dongkrak Produktivitas dan Tambah Tanam

Dwi Iswari yang tampil mewakili Dirjen Ta naman Pangan, Kementan pada seminar AGRINA Agribusiness Outlook 2017 (15/12), di Jakarta men jabarkan langkah operasional Kementan. Karena, ucapnya, “Padi masih ada kesenjangan produktivitas di tingkat petani. Rata-rata nasional 5,34 ton GKG (gabah kering giling)/ha, tapi variasi antar provinsi 2,28-6,21 ton GKG/ha. Di wilayah yang masih rendah (produktivitasnya) perlu didorong.” Untuk itu pemerintah menyediakan bantuan benih unggul ditunjang teknologi bertanam yang lebih baik, misalnya jajar legowo, Hazton, dan system of rice intensification (SRI). Lalu pengawalan hama penyakit secara terpadu serta aplikasi mesin-mesin pascapanen modern untuk meningkatkan kualitas gabah dan mengurangi kehilangan. Ekstensifikasi diwujudkan dengan penambahan luas tanam di lahan kering, pasang surut, dan rawa le bak. Penambahan ini dipantau setiap hari sejak dari kecamatan secara intensif dan masif. Hasilnya menggembirakan. Kendati 2015 Indonesia dihantam fenomena El Nino (kemarau panjang), “Produk si padi meningkat 5 juta ton atau 6,42% (Angka Tetap BPS 2015),” ujar Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan itu. Memang banyak daerah yang gagal berproduksi tetapi di daerah pasang surut seperti Sumsel, dengan musim kering yang luar biasa malah bisa bertanam padi. Tahun lalu fenomena La Nina menerjang Indonesia sehingga menghasilkan kemarau basah.

Biasanya JuniAgustus berlangsung musim kemarau dan hanya sedikit petani menanam padi sehingga tiga bulan kemudian paceklik. Tapi karena ada La Nina, petani masih tetap bisa bertanam. Pun hujan di Desember tidak terlalu lebat akibat sisa pengaruh El Nino. Jadi, petani masih bisa panen. Sebelum Program Pajale, luas tanam Juni – Agustus hanya 400 ribuan ha/bulan. Namun, tahun lalu bisa mencapai satu juta hektar per bulan. Jadi, “Tiga bulan yang akan datang, kita tidak akan mengalami musim paceklik. Kita bisa pastikan kalau pertanaman diatur dengan pola seperti dua tahun terakhir, mudah-mudahan tidak impor beras lagi,” ucap master lulusan University of Adelaide, Australia itu. Sayang, cerita indah padi tidak terjadi pada kedelai. Masih banyak alasan bahan baku tempe-tahu ini belum mencapai target. Doktor dari IPB Bogor itu pun mengakui, pencapaian swasembada kedelai masih butuh waktu